Banyak orang tua bertanya-tanya, “Apa saja yang sebenarnya dilakukan anak-anak saat MPLS? Apakah mereka hanya bermain?” Jawabannya adalah ya, mereka bermain. Namun, di SDS Wening, bermain adalah instrumen belajar yang paling kuat bagi anak-anak di usia awal sekolah dasar.
Filosofi “Belajar Sambil Bermain” Transisi dari lingkungan TK yang bebas menuju SD yang lebih terstruktur seringkali menjadi tantangan. Memaksakan anak untuk langsung duduk diam dan belajar secara akademis justru dapat memicu stres (school refusal). Oleh karena itu, pendekatan Play-based Learning atau Belajar Sambil Bermain menjadi pondasi utama MPLS kami.
Aktivitas Pembentuk Karakter Beberapa kegiatan interaktif yang kami selenggarakan memiliki tujuan psikologis dan edukatif yang spesifik:
- Permainan Dinamika Kelompok (Ice Breaking): Anak-anak diajak bermain estafet bola atau menyusun balok bersama. Tanpa disadari, mereka sedang belajar tentang kerja sama, komunikasi, dan menurunkan ego pribadi.
- Sesi Bercerita (Storytelling): Guru-guru kami menggunakan boneka tangan atau alat peraga untuk menceritakan kisah-kisah fabel. Di sinilah nilai-nilai moral seperti kejujuran, keberanian, dan empati ditanamkan dengan cara yang mudah dicerna oleh anak.
- Simulasi Kemandirian: Melalui permainan peran, anak-anak diajarkan cara memakai sepatu sendiri, merapikan alat tulis, hingga etika meminta izin ke toilet.
Melalui pendekatan ini, SDS Wening berkomitmen untuk tidak hanya mencetak anak yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki fondasi karakter yang tangguh sejak hari pertama mereka bersekolah.